Musik Keroncong Jadi Favorit Bung Karno Walau Sempat Dicap PKI

musik keroncong, keroncong favorit bung karno
google news, lamanqu

LamanQu.id – Tak pernah disanksikan lagi kecintaan Bung Karno terhadap kesenian, termasuk di dalamnya musik keroncong.

Presiden pertama Indonesia, yang juga proklamator kemerdekaan ini, sangat mencintai keroncong dan bahkan mempromosikannya kemanapun dia pergi.

Sejarawan dan peneliti keroncong Rakai Hino Galeswangi menuturkan, Bung Karno dalam biografinya pernah menuturkan bahwa genre musik keroncong inilah yang menjadi favoritnya, sebab musik ini merupakan produk asli Indonesia.

“Bung Karno nyimpulkan (musik keroncong) punyanya Indonesia, bukan punya luar (negeri), makanya dengan memunculkan sifat nasionalisnya, yang membangga-banggakan dirinya Bung Karno kan orangnya narsis, Indonesia adalah saya, saya adalah Indonesia, maka harusnya produk apapun Indonesia harus saya munculkan,” ucap Rakai Hino, Minggu (10/10/2021).

“Bung Karno pernah menyumbang dan menggandrungi juga musik keroncong. Dia senang banget musik keroncong itu, ke genre keroncong, beliau menganggap inilah produk Indonesia asli,” tambahnya.

Tercatat Bung Karno pernah memutarkan musik keroncong yang jadi favoritnya saat kunjungannya ke Belanda, dan beberapa negara lainnya. Hal ini tentu membuat musik keroncong menjadi kian dikenal di beberapa negara, sebagai musik asli Indonesia.

Namun karena identiknya musik keroncong dengan Bung Karno, pasca kejadian G30S/PKI keroncong diidentikkan dengan musiknya para kaum kiri dan menjadi musuh negara, yang tak diperbolehkan dimainkan.

Bahkan pasca peristiwa 65, pihaknya mencatat ada penghentian memainkan lagu keroncong kepada seniman asal Jakarta, yang dianggap menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kesenian yang berafiliasi dengan PKI.

“Ada kasus seorang kakek di Jakarta namanya Supaksi, dihentikan (main keroncong) karena diindikasikan dia memainkan lagu-lagu yang mengarah katanya dianggap warnanya orang merah komunis. Pasca 65 dihentikan dianggap sebagai Lekra, padahal dia bukan Lekra. Dia ngamennya memang genre-nya keroncong, tapi dianggap sebagai Lekra,” terangnya.

Keberpihakan Bung Karno kepada blok kiri di ujung pemerintahannya sebagai presiden, juga membuat stereotipe musik keroncong identik dengan komunis semakin kuat. Hal ini diperparah peristiwa G30S/PKI.

“Ambisinya Bung Karno itu (mempromosikan musik keroncong) yang nggak bisa dihilangkan, tapi dari situ dia akhirnya tersandung, mungkin kayak gitu. Makanya pasca peristiwa 65 orang-orang (yang main musik) keroncong itu dianggap pro-Soekarno dan berkomunis, makanya orang keroncong dianggap juga orang komunis, orang Lekra,” jelasnya.

Sementara itu pendiri Museum Musik Indonesia (MMI) Hengki Herwanto mengakui, Bung Karno merupakan pecinta musik keroncong. Bahkan ada salah satu album yang berisikan lagu-lagu pilihan Bung Karno.

“Jadi ada salah satu album dalam koleksi kita menunjukkan bahwa Bung Karno merupakan pecinta musik nasional, termasuk keroncong. Jadi dalam album itu, isi lagu-lagunya itu merupakan pilihan Bung Karno, ” kata Hengki.

Album itu berhasil didokumentasikan dan diarsipkan dalam bentuk digital. Tujuannya semata-mata demi dapat mengabadikan bukti-bukti otentik sejarah bangsa agar tak hilang ditelan zaman, serta tetap bisa diakses masyarakat luas.

“Keroncong sebagai musik yang lahir di negara kita perlu diperkenalkan, disosialisasikan, dan diedukasikan ke generasi muda, untuk memahami warisan budaya bangsa kita,” pungkasnya.

 

grand fondo

banner 17 agustus, baner hut ri

baner hut ri ke 77, baner pemkot

hut muba ke 66

Pos terkait