Prodi Budidaya Perairan FP Unsri Berikan Demplot Bioflokua untuk Peternak Budidaya Ikan Gurame dan Lele di Ogan Ilir

Budidaya Ikan Gurame
google news, lamanqu

Ogan Ilir, LamanQu.idSetelah Pandemi Covid-19, Desa Sakatiga. Ogan Ilir (OI) kegiatan menggalakan kemandirian pangan untuk menjadi sentra ekonomi agrofisheries terutama budidaya optimalisasi lahan pekarangan kreatif dan sumberdaya air penyedia pangan keluarga dan masyarakat desa.

Setelah Covid-19 kegiatan akuakultur produksi ikan gurami tampaknya masih belum banyak berhasil karena kematian yang tinggi. Berdasarkan kondisi ini Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan FP Universitas Sriwijaya (Unsri) merasa terpanggil untuk mengatasi masalah yang dihadapi para peternak di Sakatiga ini.

Prodi Budidaya Perairan FP Unsri melakukan kegiatan pengabdian dengan pendekatan probiotik lokal rawa dan teknologi bioflok akuaponik. Model kegiatan ini diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut, karena sudah terbukti mampu meningkatkan produktifitas ikan rawa.

Budidaya sistem bioflokua merupakan sistem budidaya ikan yang mengintegrasikan teknologi bioflok dan akuaponik.

Budidaya ikan gurame mempunyai masa pemeliharaan cukup lama sampai satu tahun, bahkan lebih. Budidaya ikan gurame ini diimbangi dengan budidaya lele yang dapat panen hanya dengan waktu pemeliharaan 2 -3 bulan.

Teknologi bioflokua mempunyai keunggulan lebih ramah lingkungan karena lebih sedikit ganti air media. Keunggulan lain teknologi ini juga lebih produktif dalam pemanfaatan lahan karena menghasilkan panen sayur dalam waktu 21-25 hari selama menunggu masa panen ikan.

Kegiatan demplot dalam bentuk workshop dan pelatihan pembuatan bioflokua sejak akhir bulan Juli 2022 sampai masa panen awal bulan Desember 2022.

Adapun pelatihan kepada para peternak budidaya ikan dan warga desa pelaku usaha perikanan dipusatkan pada tanggal 20 September 2022. Kegiatan ini juga dintegrasi dengan kegiatan praktik lapangan mahasiswa Prodi Budidaya Perairan. Jurusan Perikanan FP Unsri. Demplot dan pendampingan dipusatkan di Kompleks Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga.

“Alhamdulillah pelatihan bioflokua budidaya ikan gurami dan lele ini sebagai bagian kegiatan Pengabdian kepada masyarakat di Desa Sakatiga. Kecamatan Indralaya ini dihadiri oleh petani dan peternak ikan di Sakatiga. Mereka cukup antusian untuk mengembangkan budidaya ikan gurami. Menurut kami. budidaya ikan gurami ini masih belum banyak dilakukan meskipun sangat prospektif dan ekonomis Secara teknis budidaya dan tekno ekonomisnya akan kita dikupas pada acara pelatihan yang melibatkan dosen dari Prodi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan dan Prodi Agribisnis Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri,” kata  Dr. Marini Wijayanti.

Teknis budidaya bioflokua untuk ikan gurami sedikit berbeda dengan ikan lele terutama dani padat tebarnya.

Jika lele dapat mencapai 500 sampai 1000 ekor per meter kubik maka ikan gurami hanya 100 ekor per meter kubik maksimalnya. Pemilihan jenis kolam berdasarkan karakter tanah, meskipun jenis kolam terpal yang paling efisien lahan.

“Persiapan kolam ketika akan dilakukan bioflokua dilakukan dengan menetralkan wadah budidaya terutama jika terbuat dari bahan semen atau terpal. Pencucian kita lakukan untuk menghilangkan bahan berbahaya yang dikuatirkan akan mencemari air budidaya. Juga dengan cara membiarkan terisi air sampai beberapa hari dan dapat ditumbuhi biota air. Selain itu diperlukan pemberian probiotik rawa dilakukan setelah ditebar garam, kapur. dan molase.” papar Dr. Dade Jubaedah disela kegiatan.

Secara teknis pemberian molase dilakukan setiap minggunya sebanyak 100-150 mi untuk 1 meter kubik. Garam diberikan sekitar 2-3 kg per meter kubik diawal pemeliharaan. Kapur diberikan 100 gram per meter kubik media pemeliharaan atau tergantuk tingkat keasaman air yang digunakan.

“Nilai keasaman sebaiknya disekitar pH 6-7 supaya optimal mendukung pertumbuhan ikan. Kedalam kolam minimal 50 cm dan sebaiknya tidak lebih dari 1.2 meter. Pemantauan kualitas air seperti pH, oksigen terlarut. dan ammonia terus dilakukan secara kontinu setiap minggu untuk menjaga lingkungan yang optimal bagi ikan budidaya”, ujar anggota tim lainnya, Dr. Mohamad Amin.

Pemeliharaan ikan dilakukan sampai mencapai ukuran layak panen. Untuk mendapatkan keuntungan bagi petani, kolam bioflok diameter 2 meter tinggi 1,2 m setidaknya berjumlah 10 buah sehingga lebih layak secara ekonomis. terutama jika usaha budidaya tersebut menjadi sumber pendapatan keluarga.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat skema terintegrasi ini menggabungkan penerapan riset probiotik dan bioflokua ikan rawa, dengan kegiatan perkuliahan mahasiswa, praktik lapangan dan sekaligus transfer informasi dan teknologi bagi masyarakat yang terus dilakukan di desa Sakatiga ini oleh tim Dr. Marni Wyayanti bersama dengan Dr. Dade Jubaedah. Dr. Mohamad Amin. Yulisman S.Pi. M Si, dan Dr. Muslim dari Prodi Budidaya Perairan FP Unsri bersama dengan Dr. Erni Purbiyanti dan Dr. Selly Oktarina dari Prodi Agribisnis FP Unsri. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat Sakitiga Indralaya melalui budidaya ikan sistem bioflokua ini.

grand fondo

banner 17 agustus, baner hut ri

baner hut ri ke 77, baner pemkot

hut muba ke 66

Pos terkait