Cerita Sofyan Petani Cabai Sukses Panen 25 Ton per Hektar

  • Whatsapp
petani cabai, Kelompok Tani Sadar, hasil panen cabai

LamanQu.id – Namanya Muhammad Sofyan. Dia adalah Ketua Kelompok Tani Sadar di Dusun Cilacap, Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Di tengah cuaca terik dan cenderung tidak menentu, panen cabai di lahan yang dikelolanya mampu menghasilkan 25 ton per hektare.

Lahan milik Sofyan ini hanya berjarak sekitar 9 kilometer dari Bandara Internasional Kualanamu. Dia awalnya hanya menanam padi dan kedelai. Namun karena pendekatan kedelai kurang menguntungkan, dia beralih ke cabai. Hingga sekarang, dia baru 7 tahun menanam cabai.

“Cabe ini menjanjikan kalau harganya stabil dan hasilnya memuaskan. Walaupun juga pernah kerugian ketika harganya jatuh,” kata Sofyan, Jumat (26/2/2021).

Menurut Sofyan, pandemi Covid-19 telah berpengaruh ke hampir semua sektor. Tidak terkecuali petani di Dusun Cilacap ini.

Perekonomiannya agak berat. Bekerja pun katanya itu. Jadi kita kan pening juga. Jadi kita ini lah usaha nanam cabe, ā€¯ujarnya.

Di atas lahan seluas 4 hektare, dia baru dua kali panen. Masih ada sekitar 13 kali panen lagi. Perhitungannya, dari 1 batang bisa menghasilkan 1 hingga 1,2 kilogram.

Dalam 1 hektare, dia menanam sekitar 17.000 batang. Jika dikalikan, maka hasil panen cabai mencapai 20 hingga 25 ton.

Biaya produksi tiap 1 batang tanaman itu Rp15.000. Dan tiap batangnya bisa menghasilkan 1 hingga 1,2 kilogram. Maka petani bisa untung, harga cabe harus di atas biaya produksi. Seperti sekarang, harga di petani Rp25.000 per kilogram , “ujarnya.

Sofyan mengatakan, pihaknya mendapat bantuan pemulihan ekonomi di masa Covid-19 dari pemerintah Provinsi Sumatera Utara berupa mulsa, pupuk, obat dan lain sebagainya. Dalam kondisi seperti saat ini, bantuan pemerintah sangat diharapkan.

Menurutnya, harga dan iklim menjadi tantangan bagi petani. Misalnya di saat panas seperti sekarang ini. Kalau tidak hati-hati, maka telur kutu cepat menetas dan bisa menghancurkan tanaman.

Oleh karena itu, harus ada perhatian ekstra. Begitu juga ketika curah hujan tinggi, bisa menyebabkan tanaman layu kemudian mati, dia menyebutnya dengan istilah mati gadis.

“Cabe ini kan tidak ada HET (harga eceran tertinggi). Harapannya bisa dibikin lah HET di atas Rp15.000. Jadi walaupun cabe itu banyak, petani tetap bisa untung,” katanya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara, Dahler Lubis mengatakan, sebagai upaya pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19, pemerintah sumatera utara menggelontorkan bantuan kepada petani cabe seluas 422 hektare di 22 kabupaten atau kota.

Di Deli Serdang ini, yang dibantu seluas 35 hektar. Di Sidodadi ini, kita bantu 4 hektare. Dan di sini kita lihat, ini cukup bagus. Hasil panen dijual Rp25.000 per kilogram di tingkat petani, dan di pasar Rp30.000 hingga Rp40.000, “katanya.

Menurutnya, Sumut mengalami surplus produksi cabai. Kebutuhan cabai di Sumut di kisaran 120.000 ton per tahun. Sedangkan produksi mencapai 170.000 ton sehingga masih bisa dikirim ke Batam, Riau, dan daerah lainnya.

“Di sini kita bantu petani berupa pupuk, mulsa, obat-obatan dan lainnya. Sedangkan bibitnya, bibit lokal,” katanya.

selamat menunaikan ibadah puasa vaksinasi di palembang, ayo vaksinasi, sukseskan vaksinasi di palembang himbauwan 3m dan 3t
Baca Juga :  Hai Orang Tua Ajarkan Anak Remaja Soal Keuangan