Riyadhoh Itu Rumus Menuju Kemudahan-Nya

  • Whatsapp

Palembang, LamanQu.id – Afiliasi kita dengan sebuah jamaah atau lembaga ilmiah mana pun, harus menjadi sarana untuk memusnahkan ego dan kebanggaan kita, tanpa memandang rendah orang lain. Ada banyak yang hatinya murni meskipun tidak ber-afiliasi dengan salah satu di atas. Hal ini bukan paspor otomatis ke Surga. Bersebab itu, Riyadhoh adalah jurus sederhana menuju kemudahan-Nya.

Ada orang yang masuk surga hanya dengan memuaskan dahaga seekor anjing, yang lain mendapatkannya dengan hanya memaafkan semua orang setiap hari sebelum tidur. Mereka tidak memiliki banyak hal untuk ditampilkan, tetapi apa yang mereka lakukan, penting bagi Allah.

Seseorang mungkin berjalan melalui gerbang surga dengan modal sangat sedikit dan kehadirannya ketika hidup di muka bumi tidak dianggap penting, sementara yang lain dengan perbuatan yang jauh lebih besar justru binasa karena kesombongan mereka. Jangan terkejut jika orang itu menuntun Anda berjalan melewati gerbang Surga.

“Dengan demikian, kita sadari bahwa bahagia atau tidaknya seseorang dalam kehidupan akhirat kelak sangat tergantung pada apa yang dilakukannya di dunia ini. Oleh karna itu, mumpung Allah masih memberikan kesempatan hidup kepada kita, menjadi keharusan kita bersama untuk mengisi kehidupan ini dengan memperbanyak amal shaleh. Dan marilah selalu Melihat hal baik yang ada pada diri orang lain,” demikian tutur Afandi Mulya Kesuma SE kepada Media Online ini, Ahad 7 Juni 2020.

Baca Juga :  Satu Desa Satu Rumah Tahfiz Pemikiran Deru Pada Launching Rumah Tahfiz Ash Sholihin

Dirinya menambahkan, dalam pelbagai literatur yang pelajari bahwa melakukan riyadah bagi seseorang tentu akan memberikan beragam manfaat luar biasa bagi kehidupannya. Pada umumnya ia akan menemukan jatidirinya. Tentu ada faktor penting yang punya peran dalam pengungkapan rahasia itu, yaitu adanya daya nalar kritis. Semakin luas perspektif seseorang maka dengan sendirinya jatidiri itu akan cepat didapatkan.

 

“Umat di era millenial memang rentan dengan gelisah dan penyakit hati lainnya. Kegiatan yang sangat padat telah menggiring pemikiran yang skeptis kendati otaknya cerdas. Pemanfaatan waktu telah menjajah mindset seseorang ke lembah impian yang tidak berkesudahan. Hasrat yang menggebu dalam menggapai segala impian materi tentang hidup yang wajib lebih baik dari sebelumnya,” dia menambahkan.

Sikap hubbud dunya manusia sekarang telah menjauhkan mereka kepada Sang Pencipta. Menghanguskan beragam akhlak mulia yang semestinya masih melekat di dinding hati. Mereka terus dikejar waktu. Mereka seakan ingin mengalahkan waktu, tapi justru dirinya yang ditenggelamkan waktu sampai begitu dalam.

Baca Juga :  40 Pelaku Usaha di Sumsel Terima Sertifikat Halal

Hidup terburu-buru. Kans untuk berlama-lama dengan keluarga begitu sempit, apalagi dengan tetangga. Lebih-lebih kepada Tuhan yang menciptakan kita. Sementara kita setiap hari bergelimang dengan dosa. Dan kita tidak memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin. Kita alpa akan rumus hidup yang indah, bahwa hidup harus seimbang: Ibadah, kerja, dan istirahat. Seperti pola makan, supaya tubuh sehat maka butuh keseimbangan agar tidak mudah diteror dengan penyakit.

Pengertian riyadah menurut bahasa adalah olahraga, latihan. Sedangkan menurut istilah, riyadhoh adalah latihan penyempurnaan diri secara terus menerus melalui zikir dan pendekatan diri kepada Sang Khalik. Dalam kajian tasawuf, riyadhoh diartikan sebagai olah jiwa, yakni dengan menjalankan ibadah dan menundukkan keinginan nafsu syahwat.

“Dalam Al-Quran surah Al-Maidah: 35, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan,” sambungnya.

Baca Juga :  Pemberangkatan Usai, Embarkasi Palembang Berangkatkan 8.509 JCH

Jadi riyadhoh merupakan sebuah proses yang mau tidak mau harus manusia jalani sebagai balancing sistem dari perkara hidup. Problema hidup tidak akan sirna dalam diri seseorang. Siklus kehidupan manusia saban hari akan terus mengalir, senantiasa berubah setiap waktu berlalu.

Pola hidup yang tidak seimbang menatalkan beragam kegelisahan yang menyeruak dari dasar hati. Jika sindrom ini dibiarkan terus berlarut-larut, ujungnya akan berbuah frustrasi dan penyakit rohani.

Hal ini adalah rumus sederhana dalam kehidupan di alam semesta. Semua orang tahu, bahwa menjalankan riyadhoh besar faedahnya. Tapi berapa banyak orang yang bisa mempraktekkan riyadhoh

“Solusi terbaik dalam memberangus kegelisahan rohani adalah dengan jalan riyadhoh. Sebab dengan jalan riyadhoh orang tidak akan tenggelam pada kesedihan begitu dalam jika ia tertimpa musibah. Sebaliknya ia tidak akan terbahak-bahak kalau dirinya mengalami kebahagiaan. Yang ada hanya sujud syukur dalam setiap mendapatkan pemberian-Nya; baik senang maupun susah,” tutup lelaki berkacama minus ini. (Afandi Mulya Kesuma)